Hujan

February 3rd, 2009 by nand

Hey matahari, dimana kah dirimu?
mana janjimu kepada sang pencipta untuk selalu terbit dari timur dan tenggelam di barat sampai akhir waktu
Lupakah dirimu akan hal itu?
Kenapa hujan menjadi korban semua ini?

Mungkin diriku ini terlalu egois mendambakan kehadiranmu
Karena ku tau, kehanggatanmu lah yang di nantikan banyak orang
Keberadaanmu menceriakan setiap insan di sekitarmu
Aku membutuhkanmu di tiap hariku, karena ku tahu ketika hujan aku juga kehilangganmu

Terlena diriku akan hari-hari bahagia dengan kehadiranmu
Kenyataannya diriku terlupa bahwa ada saat dimana kau tidak lagi bersinar
Saat dimana kehanggatanmu tertutup oleh awan tebal itu
Awan yang menutupi sinarmu
Karena hanya sinarmu itu yang mampu bukan sinar lainnya
Barulah kusadari dirimu tidaklah kekal namun tidak tergantikan

Mungkin ini salahku, manja diriku ini yang terlalu bergantung akan dirimu matahari
Bukan maksud hati aku membencimu hujan
mungkin diri ini yang terlalu takut akan dinginnya airmu
Karena tidak mungkin kalian hadir bersamaan wahai hujan dan matahari

Diriku hanya bisa terkagum-kagum pada dirimu hujan
Engkau sering di perlakukan tidak adil
Dirimu dianggap musibah karena menghalangi sang matahari
Kehadiranmu tidak dinantikan banyak insan
Kehadiranmu  tidak sebanding dengan kehadiran matahari
Apa karena itu engkau selalu hadir menangis?

, ,

10 Responses to “Hujan”

  1. nand Says:

    lagi puitis mode on
    jgn asumsi itu seseorang ya ^_^

    makasih matahari, maaf ya hujan itu aja intinya

  2. dimaz arno Says:

    hujan dan matahari, hmmm

    matahari selalu datang sebelum kau sempat bersyukur dia datang,
    tapi siapa yang bisa menemani di malam hari
    bukan matahari tentunya, tapi mungkin hujan, mungkin bintang, dan mungkin juga bulan.

    so, ada niat nyari bintang atau bulan nda? kikikik

  3. nand Says:

    mungkin nanti,,
    skrng kan lagi musim hujan, banyak orang yang mengeluhkan kehadiran hujan.

    Banjir, menyalahkan hujan. Bukannya kesalahan kita sendiri yang tidak merawat daerah resapan air dan sungai.

    Macet, menyalahkan hujan
    Semuannya menyalahkan hujan..

    Kita pasti butuh hujan, saya yakin itu

  4. dimaz arno Says:

    i believe kan?

  5. nand Says:

    tanpa sadar,,saya mengucapkannya lagi…
    haks haks

    and still,,i believe :P

  6. dianparamita Says:

    i believe, i believe my heart, i believe i can fly.. itu semua judul lagu hehehe *maap ga penting*

    kata siapa matahari dan hujan ga bisa hadir bersamaan? kan ada tuh hujan panas *yang dianggap sbg pertanda buruk bagi orang2 yang percaya mitos*

    menurutku matahari dan hujan sama2 penting, hanya saja kehadiran hujan sulit diduga sementara matahari sudah beredar sesuai jadwal.. mungkin itu yg bikin manusia kadang tidak mensyukuri datangnya hujan

    matahari dan hujan sama2 penting, karena kalau nggak ada keduanya yang hadir bergantian, nggak akan ada pelangi.. :)

  7. rianty Says:

    lo lupa,nan…
    gw kan matahari…hehe..

  8. nand Says:

    @ dianparamita
    frekuensi ujan panas kan kecil ^_^
    yup,keduanya penting..
    cuma melihat kondisi skrng yang mengeluhkan hujan terus..

    @rianty
    terus lah jadi matahari ^_^

  9. sukma Says:

    matahari tetap tersenyum manis kok, tapi dia malu saja tidak menampakkan alias dibalik awan gelap (mendung nan hujan) karena ternyata saat ini memang tanah butuh kesegaran siraman yang segar.
    tak perlu risau, yang penting bermanfaat. tul tak?
    seperti mata kita, terkadang terlihat tajam dan cerah, terkadang pula butuh kesejukan atau kesegaran dengan meneteskan air mata.

  10. rizqareena Says:

    kalo matahari dan hujan diibaratkan seseorang, gw bakal milih hujan.
    dengan tangisannya, dia dapat menentramkan hati orang banyak

Leave a Reply