Setelah sekian lama, akhirnya saya sampai juga ke Bandung. Yup, sudah lama sekali tidak mengunjungi kota kedua saya ini. Terakhir saya kesana bulan january yang lalu tgl 24-26 Januari 2009 saat liburan Imlek. Bagi saya itu jenjang waktu yang lama sekali untuk kembali ke bandung coret semenjak menetap di Jakarta [lagi]. Kota kita tidak terlampau jauh dibanding kota lain, namun karena keterbatasan waktu (lagi-lagi waktu) hal ini menjadi sulit sekali terealisasi.
Mungkin banyak teman-teman saya yang seperti saya. Bukan orang Bandung, tapi kuliah di kota tersebut selama beberapa tahun lalu lulus dan bekerja di kota lain. Namun tidak tahu, apakah perasaan yang lain seperti saya yang begitu menyukai kota ini. Seakan-akan kota ini adalah rumah kedua saya. Pernah saya waktu liburan kuliah selesai tak sengaja berkata seperti ini kepada Ibu saya. “Mam, Nanda pulang dulu ya”. Secara tidak sadar, saya menyebut kota ini rumah untuk pulang. Sentak Ibu saya pun berteriak dan mengingatkan saya bahwa rumah saya itu di sini (Blok E/6 Komp DPR-RI).
Mungkin ada sesuatu pada kota ini. Jawabanya adalah saya punya Keluarga [lagi] disini. Temen2 kostan saya yang rajin (bet
), temen-temen kelas saya yang tersisa dan temen-temen di gedung E. Mereka semua adalah alasan saya untuk tetap ke Kota ini. Mereka sering sekali menanyakan kapan ke Bandung? kapan kita jalan2 lagi? pertanyaan ini terus ada di tiap akhir pekan saya, dan terus terang itu sangat-sangat menggoda. Dengan adanya urusan lain mungkin tidak bisa saya sesering mungkin ke sana. Seneng banget saya belum pernah terbebas dari pertanyaan “kapan ke Bandung?”di tiap akhir pekan, serasa saya diharapkan kehadirannya, seakan nama saya ADA di Bandung dan tidak TERLUPAKAN.
Perjalanan pun terjadi dan diawali dengan tragedi. Saya nyasar menuju tujuan
. Aneh ya, sudah kurang lebih empat tahun melakukan perjalanan menuju Bandung coret ternyata masih bisa nyasar juga untuk pertama kalinya (untuk menuju kampus ya,,kalo selain itu mah sering banget nyasar
). Ceritanya gini, karena tujuan saya menuju Kostan Aliyaplex yang alamatnya masih samar di ingatan saya tepatnya. Untungnya saya masih online YM lewat mobile, saya pun PM salah satu penghuni Aliyaplex dan dapat balasan berupa “Sigepo, palam”. Saya ingat nama kompleknya adalah GBA, entah kepanjangannya.
Sore itu, saya turun di Tol Buah batu (ketawan naik Bis 26 rebu
). Selamat sampe tujuan situ tanpa mesti mengunjungi cileunyi seperti kejadian sebelumnya. Karena jalan begitu macet akibat kerusakan jalan saya pun memutuskan naik ojek, tadinya sih mo minta di jemput, tapi ga usah deh, ga mau ngerepotin siapa-siapa.
Dengan gagah saya memangil tuh tukang ojek. Tawar menawar pun terjadi, kira-kira seperti ini :
Saya : Bang, (dengan tangan terangkat dan lirikan kepala yang memberi sinyal)
Ojek : Kemana a’? (sunda euy)
Saya : GBA bang. (dengan gagah dan lantang saya menjawab)
Ojek : GBA berapa?
Nah lo, GBA ada banyak ternyata. Entah dapet wangsit darimana saya jawab aja GBA 2.
Saya : GBA dua bang. berapa?
Ojek : lima ribu aja a’
Kok murah ya? saya heran sih, sambil saya tanya ke Jaka untuk konfirmasi via YM lagi dan masih dengan balasan “Sigepo, Palam” terlebih dahulu baru ada balasan bukan GBA berapa tapi malah nama subkomp “sekar”. Duh nih anak ga bisa diandalkan disaat2 genting gini.
Saya : ga tiga ribu ya bang? (sambil tetap melanjutkan penawaran)
Ojek : wah itu mah ke pesantren dek
Hah sejak kapan ada pesantren yak? mungkin ada di sekitar Komplek GBA, atau ada “pembangunan Pesantern kilat
” sampe bangunnya juga kilat. Tanpa rasa khawatir saya naik ojek ke tujuan.
Saya : Ya udah deh bang.
Alhasil saya dibawa pergi sama tukang Ojek ketempat yang salah
. Tapi gapapa, saya nyasar dengan perasaan bahagia. Sambil naik Ojek saya foto2 pemandangan sekitar saat itu, pemandangan yang menenangkan pikiran, dari hirukpikuk dunia ini. Nih foto-foto nyasar saya 


Bandung saat itu mendung. Saya tidak melihat “matahari” di bandung saat itu. Rintik hujan menemani sebagian besar perjalanan saya. Awan gelap menghalangi sinar matahari, dan angin dingin menyerang tubuh ini.
Saat itu tema yang tepat untuk perjalannan kemarin mungkin adalah Nostalgia. Jalan-jalan malam di kota bandung, untuk makan malam. Bercanda layaknya jaman kuliah dulu (kek udah 10 tahun aja ya
). Mungkin ini nostalgia pertama dan semoga ada lagi seperti ini lagi nantinya. Mungkin cuma bagi saya ini nostalgia, karena yang lain masih ada di kota ini, cuma saya yang jauh
.
Malam itu juga mengunjungi lab. Tempat saya mengapdi di tahun terakhir. Sedih rasanya mendengar lab ini akan di pindahkan ke tempat yang jauh yaitu di samping nya
. Dari dulu lab ini sudah disana sejak di dirikan, dan mulai kan di pindahkan tahun ini. Banyak lab juga yang mulai berpindah-pindah lokasi.
Ditemani angin dingin ini, saya mengunjungi lab e108. Melihatnya saja saya langung teringat kenangan-kenangan yang ada di sana. Kenangan manis tentunya, terlihat di balik jendela yang paling kanan adalah tempat saya mengerjakan Tugas Akhir beberapa bulan yang lalu. Letaknya di pojok, dan saya menyebutnya pojok berdarah
.


Foto diatas Tempat kerja saya. Dengan notebook BenQ perjuangan, saya freak duduk di kursi itu. Pagi siang malam terus disana, kadang mandi 1 kali sehari, makan nitip, lupa semua, beban fisik, mental dan tenaga saat itu yang saya rasakan. Malu juga kalo belum mandi, karena didepan sana lalu lintas yang cukup padat. Dosen-dosen juga sering lewat
. Melihat pojok itu membuat saya tersenyum juga. Masa-masa sulit, di hadapkan dengan jadwal kuliah dan praktikum yang tidak bisa dikompromi, ditambah dulu “mantan saya” ditahun ketiga kuliahnya meminta waktu dan telpon dari kakak saya yang menanyakan “kapan lulus?” terus menghantui
. Cukup menderita saat-saat itu, semuanya menagih “waktu”, sampai saya tidak punya waktu untuk diri sendiri. Tidak bisa egois saya waktu itu, pilihan pun sudah terjadi semua, dan semua sudah membuahkan hasil
. Ada yang baik, tapi yah,,ada juga yang tidak sesuai harapan.
Coba OOT sejenak, misalkan ada pilihan seperti ini : 1. Ngerjain Tugas Akhir; 2. kepentingan lab; 3. Kuliah; 4. Jalan2 sama doi; 5. Istirahat (games, jalan2, tidur). Yang menyenangkan cuma pilihan 4 sama 5 kan.. yah sekarang kapan selesainya si nomor 1? Pilihan 3 pun menjadi korban ketidak adilan, jarang masuk, sistem SKS terjadi. Untuk pilihan 4, berkurang porsinya. Alhasil kita sering bertengkar, jarang menghabiskan waktu berdua walau setiap hari bertemu. Cuma bisa mengingatkan kalau pilihan ke 5 sudah saya korbankan, “there is no number 5″ waktu diri sendiri pun sudah minim sekali, sudah tidak napsu untuk nonton semua film seri, dorama favorit, Heroes yang sekarang sudah episode 319 dan baru saya tonton episode 302 pada minggu ini . Dan tau nga kenyataanya pilihan satu, dua dan tiga adalah untuk masa depan, dan mungkin saja masa depan kita. Butuh kedewasaan untuk tidak mementingkan ke egoisan kan? dan saya kira juga butuh kedewasaan untuk memahaminya. Tak ayal ku dapet julukan di FB cnc “THE WORKAHOLIC”
Kembali ke lap…top. Lab malam itu sepi dengan manusia, banyak yang mudik dan sepertinya ada praktikum diatas. Keliling sejenak, mencari-cari sesuatu, dan menemukan sesuatu yg menarik
.
.
Huaaa,,sepatu perjuangan. Masi ada ternyata. Sepatu-pantovel-coklat-dekil-yang-belakangnya-udah-hancur inilah teman SETIA saya selama kuliah. Kelebihannya antara lain :
1. Tanpa tali, makenya ga ribet
2. Formal (kalo masi bersih sih iya
)
3. Cream coklat (my fav colour)
4. Nyaman & Awet
dan yang paling penting dari semua diatas adalah
5. Ga ada yang minat nyolong 
Kenyataannya sepatu ini selamat dari tragedi-tragedi kecurian yang marak terjadi di kost-kostan. Pagi-pagi pernah heboh satu kost yang sepatunya di luar pada raib di tilep maling, tapi sepatu saya yang jelas-jelas ada di luar dan paling dekat dengan pagar aman sentosa tak berpindah seperti terakhir saya meletakannya. Terbukti ada sampai saat ini, dilab aja masih ada, kayanya bener2 ga ada yg minat yak
.
Fakta-fakta sejarah seputar sepatu ini :
1. Anak-anak aliya suka manggil dia Asbak
2. Selama dia idup, cuma sekitar 4x saya cuci. 1tahun 1 x cuci mungkin 
3. Saya make ini waktu sidang
walau dia mesti diletakan diluar
4. Selalu selamat dari kejadian curanmor
5. Ga ada yang mau minjem, berikut rata-rata dialog :
teman : eh nan pinjem sepatu dong..
saya : pake aja tuh dibawah
teman : gajadi deh —>grrrrrr
6. Penampilan saya jadi kausal bgt, jadi kaya mahasiswa penuh style. Putih-BiruGelap-CreamCoklat adalah warna yang sempurna untuk kesesuaian wajah dan tubuh saya (jgn muntah ya
)
7. Ga pernah ada yang nyamain. ga pernah khawatir deh tengsin ngeliat sepatu sama dengan teman 
8. Bagian belakang hancur karena emng hobi kalo make sepatu ga kelamaan ribet narik tali sepatu, hajar aja abis masuk langsung jalan. Hal ini terjadi pada pantovel saya yang sekarang di kantor 
9. Saya beli sekitar semester 2 di pasar baru Jakarta. Dengan harga 200 ribu (mahal kan?
) bersama teman saya Fany (teman SD)
10. Sampai pernah di beliin sepatu baru sama papa saya waktu berkunjung ke kostan karena melihat sepatu ini
tapi tetep saya tidak bisa berpindah kelain hati.
11. Belum ada pujian satupun dari seseorang selama kondisi baru maupun ke bentuk sekarang. Temen saya aja heran waktu kita beli bareng. “lu serius nan, beli tuh sepatu?” ->grrrr
12. Saat ini sudah di Jakarta untuk di musium kan untuk di lelang di hari tua saya (ini serius
) .
13. Tidak di izinkan untuk menggunakannya saat wisuda
yang ini gpp lah
Saya pun menuju ke Aliyaplex dengan menggotong gitar saya dan “sepatu perjuangan” menggunakan motor. dan semoga hari itu tidak menjadi hari terakhir saya di Lab e108.
Bermalam di Aliyaplex GBA satu saat itu. beramai-ramai, kita semua kumpul. Hampir semua, kecuali anggis yang sepertinya sedang syndrom-pra-sidangnya, Boby, Iksan yang jauh tempat tinggalnya, dan Ayu . Malam yang sungguh heboh, sampai jam 3 pagi. Hihihi,,ketawa lagi kalo inget-inget lagi
. Tapi kayanya g usah diceritain deh. Lah emng cuma ketawa-tawa sambil main kartu kok dan ditambah jepit2an tentunya.
Besoknya saya pulang bersama Taufiq. Menggunakan kendaraan pribadinya. Tidak lupa memboyong gitar dan sepatu perjuangan saya bersamanya. Sambil mendengar kabar burung di ciledug hujan es, entah banjir atau nga. Takjub juga melihat berita ini, Ciledug yang tandus gersang kaya gurun itu ternyata bisa hujan Es. Dunia ini memang sudah tambah edyan
. Enak juga cepet sampe rumah dan dengan selamat tentunya, 3 jam perjalanan ga terasa sama sekali. Terimakasih untuk Pak taufiq untuk jalan-jalan sambil cerita-ceritanya yang menyenangkan. Lain kali kalo jalan bareng sama saya kaos “the best couple” nya diganti dulu yak, jijik deket-deket kalo dirimu pake baju itu
. Oh iya, akhirnya kesampean juga makan di miranti dengan Nasi rendang nya
.
Wah bandung tanpa “matahari” tetep saja memberikan kesan tersendiri. Seneng yah kalo mengunjungi sesuatu tanpa ada beban. Tanpa ada gosip miring, rasa bersalah, dan banyak yang nunggu. Ini cuma sepenggal cerita dari saya, makasih yang udah mau baca.
Moral perjalanan ini (agak banyak):
1. Apa yang kita tanam itu yang akan kita petik.
berat mungkin menghadapi tahun keempat ini, ternyata bener-bener terjadi pada kehidupan ku. Ku berjuang menyelesaikan kuliah ini untuk memperoleh sesuatu untuk keluarga ku. Seneng ga sih sebelum wisuda sudah ada pekerjaan yang menunggu? seneng ga sih merasakan belum pernah membuat satupun legalisir dimana orang-orang sudah mengirimkannya puluhan kali? Hanya bisa bersyukur, bisa tetap memilih keputusan yang tepat untuk hidup disaat yang sulit.
2. Lakukan terbaik dengan menjalin kekeluargaan dimanapun
Dilab atau pun dikost-an saya sudah memiliki keluarga. Mereka sudah saya anggap saudara sendiri. Karena itu mereka juga menganggap saya keluarga mereka. Pertengkaran memang sering terjadi di Kost, kesal karena sesuatu hal yang tidak sepaham. Kenyataannya teman-teman ini semua yang tetep setia ada terhadap saya disaat saya susah maupun senang. Tidak perlu emosi untuk menyelesaikan masalah, dan tidak perlu mempertahankan ke-egoisan diri untuk memaksakan sesuatu.
3. Keegoisan Vs kedewasaan
Masih bingung dengan yang satu ini. Ternyata tidak semua orang bisa melakukannya. Bisa lulus tepat waktu butuh kedewasaan dan lulus tidak tepat waktu juga butuh kedewasaan (dengan kesibukan lain seperti anak-anak aliyaplex yang mandiri), bisa menjaga perasaan teman butuh kedewasaan, mengimbangi ke-egoisan teman butuh kedewasaan, berbuat baik butuh kedewasaan juga. Yang saya tahu, sepertinya saya belum dewasa. Tidak ada yang bisa memaksamu dewasa selain dirimu sendiri
.