Berawal dalam perbincangan berdua dengan seorang sahabat bernama Bimantara. Terlontar suatu percakapan yang cukup menarik. Sebelum itu mungkin saya belum tersadar bahwa ternyata hal itu [memang] ada benarnya juga. Selama itu juga saya masih belum cukup paham dan menghayati arti kata “waktu adalah uang”.
Sederhana mungkin percakapan kami waktu itu, disaat perjalanan untuk makan siang. Waktu itu memang kami sedang berada di Jakarta, sebelumnya Bimantara (bim-bim) sedang melakukan proyek di Batam, sedangkan saya di Surabaya. Kita berbincang yang kira-kira sebagai berikut.
“Sebetulnya perusahaan itu membayar waktu kita”
“Kenapa seperti itu?”
“Coba kamu pikir, dari segi kesulitan pekerjaan kita tidak terlalu sulit (percaya?)”
Memang betul, pekerjaan kita saat itu tidak terlalu sulit. Ibaratnya siapapun dapat melakukannya dengan belajar beberapa minggu pasti sudah cukup mahir, tinggal masalah troubleshut dan penyimpanggan lainnya.
“terus maksudmu?”
“Perusahaan membayar waktu kita. Waktu yang dibayar untuk kita berbeda dengan waktunya Pak Christ (atasan saya saat ini). Keberadaan pak Christ tiap jam lebih berarti dari keberadaan kita dengan jam yang sama. Ketika kita Dinas di luar kota, kita dapat bayaran lebih, karena perusahaan sedang menggantikan waktu kita. Perusahaan sedang membayar waktu yang kita punyai. Perusahaan membayar waktu kita yang seharusnya ada di keluarga kita, untuk kepentingan perusahaan.”
Inti yang ingin dikatakan Bimantara seperti itu. Bagaimana kita menjual “diri” kita sendiri. Apa yang kita pantas jual untuk perusahaan saat ini, berapa harga jam kita untuk perusahaan saat ini?
Sayapun terharu membaca blog ini (bacalah bagi anda yang sibuk dengan pekerjaan anda). Inti ceritanya seorang anak yang rela berusaha menabung uang jajannya untuk membayar sang ayah yang sibuk bekerja. Sang anak hanya mampu membayar setengah jam dari “nilai jam” sang ayah hanya untuk bermain ular tangga bahkan sampai meminjam (ngutang) pada sang ayah lima ribu rupiah. Lima ribu rupiah, kenyataanya sang ayah mampu memberikan mainan yang nilainya lebih dari 10 kali lipat dari uang tersebut.
Tersadar akan hal ini, membuat saya melihat hari-hari yang telah saya lalui di kehidupan saya. Ketika semua pihak menuntut waktu yang saya miliki. Sering sekali keinginan mereka semua terbentur karena masalah waktu, karena waktu yang saya miliki hanya satu dan tidak lebih. Maafkan saya jika pilihan saya waktu itu mengecewakan pihak lain. Sungguh perjuangan untuk membagi waktu, dan cukup sulit menerima perlakuan “kamu tidak ada disini”.
Apa diriku pernah meminta bayaran untuk waktu ku saat bersama kalian? Karena aku tidak akan memintanya dari seorang yang ku sayangi (keluarga, teman, sahabat)
Mungkin aku tidak ada setiap saat disamping kalian,
Seandainya aku punya waktu lebih dari satu..sehingga aku bisa memenuhi keinginan kalian semua
Mungkin waktu yang telah saya lewati kalian nilai tidak baik,,tidak perlu egois
Mungkin waktu juga yang akan menjawabnya..(ya Allah, waktu lagi)
Waktu adalah suatu satuan yang dimiliki oleh semua manusia tanpa memandang status. Siapapun kita, kita mempunyainya. Waktu sangat berharga, lebih berharga dari sekedar uang. Manfaatkan dengan bijaksana, dan aturlah sebaik mungkin.




