Dongeng, suatu kata yang damai sekali untuk disimak. Karena kata ini tidak pernah berkaitan dengan unsur negatif sekecilpun. Mempunyai makna yang indah, bersifat mendidik, menjunjung unsur kepahlawanan, menggali nilai kebaikan dan membuat orang senang jika mendengarkannya saat itu.
Sewaktu kecil, saya pun pernah didongengi. Masih teringat waktu itu dirumah lama keluarga kami, sewaktu saya masih berumur 7 tahun. Eyang (nenek) saya menceritakan cerita dongeng legendaris “si Kancil”. Waktu itu ceritanya sederhana sekali, menceritakan si kancil yang suka mencuri timun pak tani. So simple, but why i like it? Akupun hanya bisa terlelap tanpa mendengar ending dari cerita si Kancil itu. Mataku sudah terpejam karena sudah mengantuk sekali, di kasur kecil kami yang berbagi dengan eyangku saat itu. Kasur kami tidak besar, bukan kasur yang mewah seperti springbed, hanya kasur kapuk yang tergelar di lantai dan dilengkapi seperangkat bantal dan guling sederhana.
Sebelumnya saya pernah membaca blog dari teman saya. Yang pertama dari Leonardo, seorang teman masa SD saya. Dia menceritakan yang intinya, tiap dari kita adalah pahlawan. Semasa kecil kita pasti ingin menumpas kejahatan, menyelamatkan bumi, menjadi jagoan yang bisa menolong orang yang membutuhkan dan tidak pernah di waktu kecil kita yang mau menjadi seorang penjahat (benar ga?). Bahkan ketika kita bermain dengan sebaya kita di masa kecil, kita selalu berebut menjadi tokoh baiknya, berlomba-lomba menjadi pahlawan, pahlawan yang baik penyelamat bumi
.
Hal yang sama juga di ungkapkan oleh sodara Anggis. Dia menyebutkan 10 tokoh fiktif favoritnya, tokoh utama yang menjadi kebanggannya. Dan tebak apa yang dia masukan? kesemuanya tokoh BAIK. Anda pun seperti itu, jika diminta menuliskan tokoh faforit anda saat ini, apapun yang anda tuliskan (bukan sulap bukan sihir) pasti adalah tokoh utama BAIK. Setidaknya itu baik menurut anda.
Kembali ke masalah dongeng. Dongeng biasanya terjadi antara orang tua dan anak. Saya anggap seperti itu, tetapi kenyataannya bisa saja terjadi pada seorang suami istri, sepasang pacar (ehm2) yang ingin menambah romantisme cinta mereka. Apapun hal itu, dongeng pastilah menenangkan orang yang membutuhkan, membuat mereka damai dan terkantuk ataupun terlelap. Karena kita tahu, kedamaian itu menentramkan, apalagi jika hal itu terucap dari seorang yang kita cintai.
Sama seperti kejadian menjadi tokoh baik, dongeng menceritakan suatu tokoh heroic. Seperti sinetron, tokoh baik dan jahat dalam dongeng dapat di tebak dengan mudah. Bukan maksud menjelek-jelekan Sinetron, tapi sangat lazim jika dongeng seperti itu. Karena dongeng harus lah yang mudah di pahami, jalan cerita yang tidak berliku-liku dan seperti yang saya katakan “it’s simple”. Mungkin sinetron Indonesia saja yang kurang kreatif dalam membuat cerita (maaf). Tokoh yang ada di dongeng itu sendiri biasanya adalah baik, kalaupun jahat dia akan menjadi baik (seperti kancil). Sayapun tidak membatasi dia harus berupa manusia, karena yang menjadi tokoh utama bisa siapa saja. Bisa seorang Pangeran / Kesatria dengan baju besi dan pedangnya, bisa seekor kancil, bisa sebuah mobil, apapun bisa menjadi tokoh karena ini adalah fiksi.
Sewaktu kecil, kita (setidaknya saya) senang mendengar hal itu. Kalaupun itu tertulis di buku cerita, kita lebih senang mendengarnya. Karena itulah dongeng, kedamaian yang dicari, ketenangan untuk mencegah mimpi buruk, dan karena tidur yang kurang nyaman. Ada suatu Cinta dalam dongeng, antara pendongeng dan yang mendengarkan. Sang pencerita dongeng hanya ingin dan bermaksud satu hal, dapat memberikan kesejukan, kedamaian untuk dirinya, setidaknya sampai dia lupa dengan masalah dunia, masalah yang menghantui dirinya. Yang mendengar pun hanya bertujuan mencari kedamaian, tidak peduli dengan apa isi dongeng, apapun ceritanya, hanya karena mendengar suaranya saja itu sudah dapat memberikan kedamaian, karena dia mengetahui jika dia menyempatkan waktunya untuk menceritakan dongeng artinya rasa sayang itu adalah nyata.
Kenyataanya ternyata tidak sebaik kehidupan dongeng. Sudah lupakah anda dengan niat baik anda? lupakah kita dengan nilai luhur kita sewaktu kecil? Kita semua sudah memilikinya, paling tidak sewaktu kecil akita pernah bermimpi menjadi tokoh baik. Fiksi mungkin, tapi niat anda adalah nyata. Bukan begitu?
Apa kita merasa dibodohi? Hanya karena cerita itu merupakan karangan seseorang? Hanya karena kita tahu bahwa itu adalah suatu cerita anak-anak yang TIDAK mungkin ada. Mengetahui kenyataan bahwa dongeng adalah fiksi adalah alasan kita berhenti berbuat baik. Apa kita lebih baik tidak mengetahui kenyataan tersebut saja? Dimana diri kita yang berebut menjadi tokoh jagoan, kemana diri kita yang saat itu ingin menjadi BAIK? Tanyakan pada diri sendiri, dan tidak perlu di jawab.
Dongeng mungkin adalah hanya salah satu contoh kecil, hal sederhana yang di lakukan saat ritual sebelum tidur. Namun sadarkah betapa besarnya besar dampaknya, memupuk kepribadian baik, memberikan contoh kecil kehidupan baik dan buruk, memberikan suatu idola yang akan dia tiru, dia inginkan dan akan dia lakukan.
Mari kita semuanya instropeksi diri, mengingat keluguan masa kecil tersebut, nilai luhur yang kita sempat miliki, yang harusnya kita jaga dalam diri, yang harusnya kita kembangkan di masa dewasa ini, kini malah mulai memudar di masa dewasa.